Pages

Ads 468x60px

Selasa, 27 November 2012

Resensi novel


ARTI SEBUAH WAKTU
Judul buku: Surat Kecil Untuk Tuhan
Pengarang: Agnes Danovar
Penerbit: Inandra Published, Jakarta
Tahun terbit: 2008
Tebal buku: 232 halaman
Kategori: Non fiksi

Hidup adalah anugrah yang harus kita syukuri. Seperti halnya dalam novel ini, Agnes Danovar menekankan makna sebuah waktu dalam kehidupan di dunia ini. Kisah nyata gadis berusia 13 tahun yang bernama Gita Sesa Wanda Cantika atau yang sering dipanggil Keke bertahan hidup dari kanker ganas paling mematikan di dunia. Kanker jaringan lunak menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat seperti monster. Walau dalam keadaan sulit Keke terus berjuang untuk tetap bersekolah seperti layaknya gadis normal lainnya. Dan ternyata perjuangan Keke membuahkan hasil. Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan dokter Indonesia dalam menyembuhkan kasus kanker pertama kali di Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan. Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat. Ternyata kanker itu kembali tumbuh di kepala Keke. Ia tetap bersyukur mendapatkan kesempatan lebih dari lima hari seperti yang di vonis dokter menjadi tiga tahun lamanya. Dokterpun akhirnya menyerah terhadap kanker yang menggerogoti tubuh Keke. Di saat terakhir itulah Keke menuliskan sebuah surat kecil untuk Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja yang berharap tidak ada air mata jika terjadi sesuatu padanya. Inilah yang menjadi tema pokok novel ini.
Tokoh Keke merupakan teladan bagi kaum remaja. Keke adalah sosok gadis remaja yang luar biasa dalam menghadapi cobaan. Kisah hidupnya adalah inspirasi bagi siapapun. Ia selalu berusaha ceria di depan orang-orang terdekatnya walaupun dengan semua cobaan yang dihadapinya. Agnes Danovar, sebagai pengarang yang berpengalaman mampu menghidupkan jalan cerita dengan urut. Pengarang juga memasukkan pesan-pesan yang disampaikan melalui dialog antar tokoh, namun dialog seperti itu tidak sesuai setting. Terlepas dari kekurangan itu, hadirnya novel “Surat Kecil Untuk Tuhan” menambah peredaran novel di Indonesia. Novel ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja, karena bisa menambah nilai moral remaja Indonesia.

Kamis, 22 November 2012

PUISI

TETAPLAH TERSENYUM UNTUKKU

Tetaplah tersenyum untukku
Walau derita melanda hidupmu
Percayalah ku kan slalu membahagiakanmu
Dengan cinta kasihku

Tak akan ku biarkan air matamu
Menetes di pipimu
Karna ku tak mau melihatmu

Menangis dalam dekapanku

Aku bahagia melihat senyummu
Terasa sejuk jiwaku
Dengan senyum manismu
Kau tlah membuat damai hatiku



BAHASA INDONESIA


Contoh cerpen

CINTAKU BAGAI BUMERANG
18 bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Arya. Aku berpacaran dengannya sejak dia duduk di bangku kelas 8 dan aku baru kelas 7. Kami tidak sekolah di satu SMP sehingga kami tidak sering bertemu. Walaupun begitu komunikasiku dengannya selalu lancar dan bisa menjaga hubungan kami dengan baik.
Malam ini aku bertengkar dengan Arya. Dia menagih janjiku. Aku memangpernah berjanji jika nem-nya bagus, aku mau di ajak maen. Itu semua aku lakukan untuk memotivasi dia agar dia rajin belajar dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku membicarakan hal ini lewat SMS.
‘’Iya aku mau tapi aku kan nggak mau kalo mainnya jauh. Pokoknya aku belum berani.”
“Terus ke mana?”
“Ya aku maunya nggak usah jauh-jauh. Yang deket kan banyak.”
“Ah yaudahlah terserah!”
Adi memang akhir-akhir ini selalu egois. Dia hanya mementingkan kesenangannya. Harusnya dia tahu kalau aku pasti tidak diijinkan orang tuaku, tapi dia tetap saja marah-marah.

***
Hari ini acara di sekolahku adalah classmeeting. Aku melihat pertandingan bola basket bersama Vera,Jane, Via dan temanku yang lain.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi kok mukannya nggak enak gitu?” Tanya Via yang melihatku susah ketika aku sedang membaca SMS.
“Lagi berantem sama Arya tuh!” sahut Vera.
“Hah? Kenapa lagi emang?” Jane menyambung.
“Tanya aja sama orangnya.” Jawab Vera singkat.
Aku tetap diam. Susah untuk mengungkapkan kekesalanku terhadap Arya. Aku selalu sabar menghadapinnya, tapi dia sulit mengerti aku.
Ketika pertandingan bola basket usai, aku dan teman-temanku beralih menonton pertandingan sepak bola. Kebetulan yang main Adit, teman yang akhir-akhir ini selalu menghibur kegalauanku karena Arya. Sambil tetap berusaha menanggapi Arya, aku mulai bercerita pada teman-temanku.
“Aku capek sama Arya, dia marah-marah terus. Masalah sepele selalu di besar-besarin.” Ucapku lirih.
“Ya udah lah ya, kalo emang kaya gitu kenapa di pertahanin? Putus aja!” kata Vera.
“Iya Din, daripada nanti kamu juga cuma mikirin dia dan ngeganggu konsentrasi belajar kamu.” Saran Via.
Memang benar kata teman-temanku. Aku terbebani dengan masalah ini. Aku sudah lelah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan. Akhirnya hari ini juga, lewat SMS aku meminta pada Arya untuk mengakhiri hubungan kami.
“Tapi Din, aku sayang banget sama kamu. Kamu nggak bisa dong mutusin aku gitu aja.”
Kumatikan handphoneku. Aku menangis sejadi-jadinya. Sebenarnya aku juga sangat menyayanginya, tapi aku ingin dia berubah supaya lebih dewasa. Teman-teman berusaha menghiburku di dalam kelas.
“Din, itu sudah menjadi keputusanmu. Nggak perlu di tangisin. Mungkin emang ini jalan terbaik. Kita masih sangat dini untuk menangis karena cinta. Ayolah move on! Biar dia juga tau introspeksi diri. Lihat tuh, Adit nge-goal-in.” Hibur Vera.
“Eh Din, nggak ada salahnya kan kamu pacaran sama Adit?” kata Jane polos.
“Jane!!! Orang baru putus juga, gila lo!” Vera menyalahkan Jane.
“Tapi kan nggak ada salahnya juga kalo Diana mau ngenal lebih jauh Adit.” Sambung Via.
“Sudahlah sobat! Jangan terlalu dipikirkan.” Vera mengelus punggungku.
Tidak bisa ku pungkiri, bahwa akhir-akhir ini aku terhibur dengan kedatangan sosok Adit ke dalam kehidupanku. Adit memang lebih dewasa dan lebih mengerti aku. dan itu membuatku kesengsem dengannya.

***

Dua hari sudah aku tidak berhubungan dengan Arya. Dan dua hari sudah Adit selalu menemani hari-hariku yang sepi. Dia juga turut menghibur dan membantuku untuk melupakan Arya. Hari ini adalah malam minggu, aku SMS-an dengan Adit. Awalnya, aku hanya SMS-an biasa dengannya sampai larut malam. Tiba-tibadia menghilang tak membalas SMS-ku. Ketika aku hendak tidur, handphone-ku bergetar. Ternyata SMS dari Adit. Dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Dia mengatakan bahwa sebenarnya sudah lama dia menyukaiku, bahkan sejak aku masih pacaran dengan Arya. Dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Hatiku berbunga-bunga bercampur bingung. Lalu aku mengirim SMS pada Vera.
            “Ver, Adit nembak aku. Gimana nih??”
            “Kamu kan juga suka sama dia, coba aja diterima.”
            “Iya sih, tapi aku mau mikir-mikir dulu ah!”
            “Ya deh, yang penting kamu seneng aku juga ikut seneng.”
            Aku meminta waktu pada Adit untuk member jawaban. Dia pun meng-iya-kan. Aku merasa bahagia malam ini, sampai aku tidur terlalu larut.

***

            Sepulang dari gereja, aku berjalan ke rumah sambil memikirkan jawaban untuk Adit. Aku ingat kata Vera bahwa perbedaan tak boleh menjadi halangan untuk sebuah perasaan. Dia memang benar, mungkin aku dan Adit bisa saling melengkapi. Walaupun kami berbeda keyakinan, aku memutuskan untuk mencoba menjalani hubungan dengan Adit. Hari ini juga, 27 Juni 2010 aku resmi berpacaran dengan Adit.
            Hariku semakin berwarna dengan kehadiran Adit, sosok yang bisa memahamiku, selalu bisa membuat aku bahagia. Dia sangat menghormati perbedaan di antara kami. Setiap minggu dia mengingatkanku untuk pergi ke gereja meskipun aku tak pernah lupa. Begitu juga aku selalu mengingatkannya supaya tidak lupa sholat. Aku merasa beruntung memiliki dia.

***

            Harusnya besok adalah hari jadianku dengan Adit yang ke 11 bulan. Tapi ternyata semua itu hanya mimpi setelah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata dia memiliki wanita lain selain aku. Aku mengetahui semua itu dari teman-teman dia, dari facebook dan dari sikapnya yang akhir-akhir ini berubah. Dia bukan lagi Adit yang dulu aku kenal.
            “Adit, aku dah tau semuanya, lebih baik kamu tinggalin aku meskipun aku sudah terlanjur terlalu cinta ma kamu. Aku rela walaupun aku merasakan sakit yang begitu mendalam. Makasih udah bikin hari-hariku lebih berwarna dengan kehadiranmu ke dalam hidupku.” Kataku sambil menahan air mata yang hampir menetes.
            “Tapi Din??semua itu nggak bener, kamu cuma di bohongin sama temen-temenku.” Jawab Adit berusaha menjelaskan.
            “Aku nggak bisa, ini dah jadi keputusanku. Bye.” Kataku sambil berjalan meninggalkan dia.
            Memang semua itu menyakitkan, tapi mungkin inilah jalan terbaik. Aku berusaha melupakan Adit karena aku tidak mau terlalu larut dalam kesedihan.
            Semenjak putus dengan Adit, Arya mendekatiku lagi dan ternyata ia dapat mengobati lukaku yang begitu menyakitkan. Selama 1 bulan lebih dia selalu menemaniku di saat aku butuh. Kebetulan aku akan masuk di SMA yang sama dengan Arya. Aku sering bertanya informasi tentang pendaftaran siswa baru di SMA itu. Dengan begitu, aku menjadi semakin dekat dengannya.

***

Genap 2 hari aku bersekolah di SMA yang sama dengan SMA Arya. Aku masih mengikuti kegiatan mos seperti biasanya yang dilakukan di setiap sekolah setelah penerimaan siswa baru. Aku masih belum banyak mengenal orang-orang di sekitarku.
Tett…tetttt…tettttttt…..suara bel pulang berbunyi. Waktunya mengakhiri kegiatan mos hari ini dan segera meninggalkan sekolah untuk pulang.
“Gimana rasanya bisa masuk di sini?” Tanya Arya menghampiriku.
“Seneng banget lah.” Jawabku singkat.
“Wah, aku juga seneng kalo tiap hari bisa bareng kamu ke sekolah.” Kata Arya.
“Ah kamu bisa aja. Pulang yuk!” jawabku malu dan mengajaknya untuk segera pulang.

***

Pagi menjelang, saatnya kembali berangkat ke sekolah. Aku berangkat bersama Arya. Ketika di jalan, tiba-tiba Arya bertanya kepadaku.
“Din, setelah hampir satu tahun kita berpisah, apa kamu masih ada rasa sama aku?”
“Em, gimana ya??ya gitu lah.” Jawabku malu-malu.
Arya terdiam, mungkin dia berusaha mencari arti dari jawaban yang aku berikan. Aku memang bingung jika ditanya tentang itu.
Siangnya aku juga pulang bersama Arya. Setelah sampai di sekolah, tiba-tiba Arya SMS aku.
“Din, sebenarnya aku masih sayang sama kamu, walaupun kamu dulu tinggalin aku.” Aku bingung dengan perkataan Arya.
“Yang bener?”
“Bener, aku sebenarnya masih nyimpen rasa ke kamu.”
“Lha cewek kamu gimana?”
“Aku udah putus sama dia.”
Aku tak membalasnya lagi karena aku juga bingung harus menjawabnya apa dan kebetulan bel masuk sekolah sudah berbunyi.
Pukul 15.00 Arya menyatakan kembali cintanya dan mengajakku balikan.
“Din, aku masih sayang banget sama kamu, kamu mau nggak balika sama aku?aku janji nggak akan ngecewain kamu lagi.” Pintanya memohon.
“Gimana ya? Kayaknya aku nggak bisa deh.”
Dia terus berusaha meyakinkanku. Dan akhirnya aku menerima Arya kembali mengisi hatiku.
“Makasih ya Din.”katanya sambil tersenyum kepadaku.
“Iya, sama-sama.” Jawabku sambil membalas senyumnya.
Hari demi hari kulalui bersama Arya. Aku yakin Arya bisa membantuku untuk melupakan Adit. Aku juga yakin bahwa Arya tidak akan mungkin setega Adit yang menduakan cintaku. Semakin hari aku semakin bisa kembali menyayangi Arya dengan sepenuh hatiku. Setiap hari aku berangkat dan pulang sekolah bersama Arya. Seringkali saat di jalan dia membuatku tertawa. Dia memang humoris, mungkin itu juga yang membuat aku jatuh cinta padanya.
“Arya, kamu sayang bener kan sama aku?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Bener lah sayang, masak aku cuma main-main.” Jawabnya manis.
Mungkin dari setiap perkataan Arya itu yang membuatku semakin percaya dan semakin menyayangi dia.Aku berharap cintaku dan Arya takkan pernah luntur meski banyak rintangan di depan.





Pengarang :
FRANSISKA DIANA PUTRI






Unsur intrinsik cerpen :
1.      Tema : Cinta
2.      Tokoh : -         Aku (Diana)
-                Adit
-                Arya
-                Vera
-                Via
-                Jane
3.      Setting : di jalan, di sekolah
4.      Peristiwa : kisah cinta antara aku dan Arya yang penuh dengan lika-liku hingga akhirnya hubungan kami harus berpisah untuk sementara dan aku menemukan cinta yang baru yaitu Adit. Aku kecewa dengan Adit karena adanya orang ketiga. Lalu aku kembali ke pelukan Arya dan menjalin hubungan yang romantis bersama Arya.
5.      Konflik :   -     Arya yang semakin egois
-          Aku putus dengan Arya
-          Bertengkar dengan Adit karena orang ketiga
6.      Rincian cerita :
©      Aku bertengkar dengan Arya
©      Aku putus dengan Arya
©      Aku semakin dekat dengan Adit
©      Aku jadian dengan Adit
©      Adit bisa membuatku melupakan Arya
©      Aku bertengkar dengan Adit karena orang ketiga
©      Aku berusaha melupakan Adit dengan menerima Arya kembali
©      Aku menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama Arya 





 

animasi

Sample text

Sample Text

Sample Text